Viral Video Menu MBG Ber ulat di SMAN 1 Lahusa Nias Selatan
Medianias.id _ Sebuah video yang memperlihatkan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) diduga mengandung ulat viral di media sosial dan memicu kekhawatiran warga. Peristiwa tersebut disebut terjadi di Kecamatan lahusa kabupaten Nias Selatan, tepatnya di SMA negeri 1 lahusa, Kabupaten Nias Selatan, Jumat 7/08/2026.
Dalam video yang beredar luas FB Huwunibaene, narasi tertulis makanan MBG Semakin parah, buah berulat ulat, busuk basih sehingga anak² malas untuk makan , setelah dimasukkan dimedsos,para SPP Merasa alergi sampai mendatangi anak sekolah perempuan dikos kira² jam 10 malam. Pagi ini, sy hub.bos dan saya menyampaikan masalah itu kemarin Namun bkn memberikan auto meminta solusi justru kami penerima di salahkan, kenapa tdk di laporkan kekantor....? Dasar kau tak punya otak kau yg bertanggung jawab dimakanan itu. Tulisnya.
Tampak menu MBG memperlihatkan jeruk yang di dalamnya terdapat ulat. Mereka mengaku enggan makan makanan tersebut karena khawatir akan dampaknya terhadap kesehatan.
Berdasarkan informasi yg kita himpun dari sekolah, mengatakan bahwa MBG yg mereka terima sering basi dan kadang berulat, makanya kali ini kami viralkan dimedsos.
Rekaman video itu sontak menuai reaksi dari masyarakat, terutama para orang tua yang mempertanyakan kualitas dan pengawasan program MBG yang seharusnya menjamin asupan gizi anak sekolah.
“Setelah ditelusuri, benar bahwa itu terjadi di SMA Negeri 1 Kecamatan lahusa,” singkatnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 3 lahusa bernama adilma Baene, saat dikonfirmasi Medianias.id tentang video viral tersebut mengaku benar adanya menu MBG yg ber ulat, dan telah dilakukan penggantian menu tersebut, serta membantah bahwa menu MBG yg di sajikan sering basi dan berulat.
Warga berharap ada evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang, mengingat program MBG bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak, bukan sebaliknya.
Kasus ini menjadi sorotan publik dan diharapkan menjadi perhatian serius bagi penyelenggara program, khususnya dalam hal pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah.
